Sebelum tanggal berganti, mau cerita tentang kisah hubungan asmara saya dan buku.
Kisah ini bukan kisah yang bisa membuat orang tertawa, atau sebaliknya menangis, tapi bisa membuat orang tau, seberapa berat perjuangan cinta saya sama buku.
Awal perkenalan kami tidak berjalan mulus, karena diusia enam tahun ketika duduk di bangku kelas 1 sd, saya belum bisa membaca. Jadi saya belum atau bahkan tidak akan bisa merasakan seperti apa jatuh cinta sama buku. Apalagi, keluarga saya tidak pernah membelikan buku buku cerita bergambar yang bisa menarik perhatian saya.
Disaat teman teman yang lain bertukar tukar majalah bobo, donal bebek, paman gober, saya cuma sesekali numpang liat liat gambar. Itupun kalau dipinjamkan. Kalau tidak, ya nasib.
Beruntung saya, punya kakak perempuan yang suka menabung untuk membeli buku buku cerita. Keberuntungan sih, kalau dia lagi baik. Sukanya juga pelit, banyak aturannya, gak boleh leceklah, gak boleh dilipet, ga boleh baca malah sering.
Mungkin, ini baru mungkin ya, melihat animo anaknya yang penasaran banget sama buku, orangtua saya jadi mau membelikan majalah anak. Tapi tetap perlu digaris bawahi, majalah yang dibelikan sudah gak uptodate, alias bekas. Alhamdulillah. Saya mulai kenalan dengan buku.
Menariknya, buku atau majalah bekas yang nomor dan urutan terbitnya mencla mencle tsb menuliskan cerita cerita yang kerap bersambung. Alhasil, akhir kisah dari cerbung tersebut saya karang dan imajinasikan sendiri. Mengingat entah bagaimana mau mencari urutan majalah yang sesuai.
Semakin beranjak ke kelas 3 sd saya semakin suka membaca, apa saja, hebatnya lagi, buku menyuguhkan hal hal yang belum saya ketahui. Semakin penasaran rasanya hati ini jika melihat buku dengan gambar yang menarik atau dengan judul yang aneh.
Buku-buku, menawarkan saya untuk mengikuti sayembara membuat buku sendiri oleh majalah bobo pada saat saya duduk di kelas 5 sd. Isi buku buatan saya tersebut adalah puisi-puisi. Dibuat dari selembar kertas double folio dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah buku. Masalahnyaaaaaaa.. Tulisan tangan saya jelek sekaliii.. Buku impian itu tak akan pernah terwujud jika saya tulis sendiri. Bagaimana tidak, kalau saya paksakan, pastinyaaaa itu buku tidak akan bisa dibaca oleh orang lain. Betulkan? Lalu? Bagaimana?
TERPAKSA, saya merendahkan diri, memuji dan menaik-naikkan derajat kakak perempuan saya itu. memohon supaya dia mau menuliskan puisi-puisi yang saya karang ke dalam prakarya buku itu. Tentu saja ada banyak syarat yang harus saya lakukan agar Orang Yang Sedang Dibutuhkan tersebut mau menuliskannya. Ya minta dipijitlah, ya minta ambilkan barang inilah, itulah. Baik yang mulia ratu, keinginanmu akan hamba penuhi.
Selesai ditulis, salah satu syarat dari majalah Bobo ialah buku buatan sendiri itu harus disahkan dengan tanda-tangan Kepala Sekolah dan Cap dari Sekolah. Pada saat itu saya bersekolah di SDN 2 (Teladan) Rawa Laut Kota Bandar Lampung. Jadilah saya memberanikan diri, mengintip-intip di celah pintu Ruang Kepala Sekolah pada saat jam istirahat. Tampak di balik meja Pak Kepsek sedang sibuk menulis. Saya gelisah, mau masuk takut, gak masuk tapi butuh. Jadilah saya cuma bisa ngintip, bolak-balik di depan pintu. Segrasak-grusuk itu memang, sampai-sampai di notice sama pak kepsek. Huhuhu akhirnya. Terbata-bata menjelaskan keperluan saya saat itu, entah karna nyambung atau tidak dengan penjelasan saya itu, ataukah entah karna kasihan, tapi yang jelas Pak Kepsek langsung menandatangani dan mencap buku tsb. Yeay.
Saya lupa bagaimana caranya buku itu bisa saya kirimkan ke kantor pos. Bisa jadi nitip ke Mama atau saya sendiri yang memasukkan ke kotak pos. Entahlah lupa.
Sekitar satu bulan setelahnya, saya menanti-nanti majalah BoBo edisi berikutnya. Menunggu pengumuman pemenang sayembara membuat buku sendiri tersebut. Ada seorang sepupu yang tinggal tak jauh dari rumah, dia berlangganan majalah Bobo dimana saya membaca pengumuman dari majalah Bobonya. Dan ternyata ada nama saya tercantum di pengumuman itu sebagai pemenang karya terbaik sayembara membuat buku sendiri. Karena melihat namaku di majalah itu, aku merengek sama orangtuaku agar dibelikan majalah Bobo edisi tersebut. Yeay. Malamnya aku pergike Toko Buku Gramedia untuk membelinya.
Singkat cerita, hadiah dari majalah Bobo pun tiba, ada boneka bobo, sertifikat, perangko sampul hari pertama dan lain-lain. Aku sangat senang sekali menerima hadiah itu.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar